ebagai momentum pergantian basis itu. Dan, inilah saatnya mengenalkan teknologi energi bahan bakar alternatif. Idenya begini...
Penyediaan teknologi energy alternatif, mestinya melihat roadmap energi
negara maju. Ada dua bagian. Pertama, teknologi penghasil bahan bakar
alternatif, dan ke dua, teknologi energi untuk transportasi dengan bahan
bakar alternatif itu sendiri. Keduanya ini, tentu saja seiring sejalan.
Pengadaannya dilakukan bersamaan. Ini yang harus ditekankan. Untuk yang
terakhir adalah lebih penting. Menciptakan tehnologi transportasi yang
bisa dioperasionalkan dengan bahan bakar alternatif harus diberi
perhatian yang serius. Bukan memusingkan diri dengan bahan bakar
alternatif, tetapi, mesin yang digunakan masih harus menggunakan BBM.
Ini berarti “pengadaan teknologi itu”
misalnya mobil FUEL CELL. Karena kondisi ini bukan hanya untuk
Indonesia tetapi masih bersifat global, sehingga pada jangka pendek yang
paling tepat adalah peningkatan efisiensi managemen produksi BBM secara
maksimal sebab bahan baku (cude oil) BBM diimport melalui singapura
misalnya memiliki kualitas yang tidak menentu. Kalau diproses dengan
kilang kilang yang sekarang ini efisiensinya sudah rendah. Secara
otomatis biaya produksinya sangat besar dan kalau dipaksakan untuk
memproduksi BBM sesuai keperluan resikonya juga sangat tinggi. Jadi
keadaan yang sesuai pada jangka pendek memberi perhatian yang sangat
khusus untuk mempertahankan kapasitas produksi BBM dengan efisiensi yang
tinggi. Peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif dari nabati
seperti program pemerintah. Sementara itu, persoalan trobosan pengadaan
teknologi pengguna bahan bahan bakar alternatif untuk menggeser
ketergantungan transportasi pada minyak fosil BBM dan bahan bakar
alternatif dari nabati tersebut kearah jangka menengah harus diadakan dengan perhitungan super cermat.
Selasa, 31 Juli 2012
Energy Alternatif Indonesia (2)
Untuk langkah awal trobosan adalah pengadaan teknologi energy alternatif. Keadaan sekarang ini dipandang s
ebagai momentum pergantian basis itu. Dan, inilah saatnya mengenalkan teknologi energi bahan bakar alternatif. Idenya begini...
Penyediaan teknologi energy alternatif, mestinya melihat roadmap energi
negara maju. Ada dua bagian. Pertama, teknologi penghasil bahan bakar
alternatif, dan ke dua, teknologi energi untuk transportasi dengan bahan
bakar alternatif itu sendiri. Keduanya ini, tentu saja seiring sejalan.
Pengadaannya dilakukan bersamaan. Ini yang harus ditekankan. Untuk yang
terakhir adalah lebih penting. Menciptakan tehnologi transportasi yang
bisa dioperasionalkan dengan bahan bakar alternatif harus diberi
perhatian yang serius. Bukan memusingkan diri dengan bahan bakar
alternatif, tetapi, mesin yang digunakan masih harus menggunakan BBM.
Ini berarti “pengadaan teknologi itu”
misalnya mobil FUEL CELL. Karena kondisi ini bukan hanya untuk
Indonesia tetapi masih bersifat global, sehingga pada jangka pendek yang
paling tepat adalah peningkatan efisiensi managemen produksi BBM secara
maksimal sebab bahan baku (cude oil) BBM diimport melalui singapura
misalnya memiliki kualitas yang tidak menentu. Kalau diproses dengan
kilang kilang yang sekarang ini efisiensinya sudah rendah. Secara
otomatis biaya produksinya sangat besar dan kalau dipaksakan untuk
memproduksi BBM sesuai keperluan resikonya juga sangat tinggi. Jadi
keadaan yang sesuai pada jangka pendek memberi perhatian yang sangat
khusus untuk mempertahankan kapasitas produksi BBM dengan efisiensi yang
tinggi. Peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif dari nabati
seperti program pemerintah. Sementara itu, persoalan trobosan pengadaan
teknologi pengguna bahan bahan bakar alternatif untuk menggeser
ketergantungan transportasi pada minyak fosil BBM dan bahan bakar
alternatif dari nabati tersebut kearah jangka menengah harus diadakan dengan perhitungan super cermat.
ebagai momentum pergantian basis itu. Dan, inilah saatnya mengenalkan teknologi energi bahan bakar alternatif. Idenya begini...
Penyediaan teknologi energy alternatif, mestinya melihat roadmap energi
negara maju. Ada dua bagian. Pertama, teknologi penghasil bahan bakar
alternatif, dan ke dua, teknologi energi untuk transportasi dengan bahan
bakar alternatif itu sendiri. Keduanya ini, tentu saja seiring sejalan.
Pengadaannya dilakukan bersamaan. Ini yang harus ditekankan. Untuk yang
terakhir adalah lebih penting. Menciptakan tehnologi transportasi yang
bisa dioperasionalkan dengan bahan bakar alternatif harus diberi
perhatian yang serius. Bukan memusingkan diri dengan bahan bakar
alternatif, tetapi, mesin yang digunakan masih harus menggunakan BBM.
Ini berarti “pengadaan teknologi itu”
misalnya mobil FUEL CELL. Karena kondisi ini bukan hanya untuk
Indonesia tetapi masih bersifat global, sehingga pada jangka pendek yang
paling tepat adalah peningkatan efisiensi managemen produksi BBM secara
maksimal sebab bahan baku (cude oil) BBM diimport melalui singapura
misalnya memiliki kualitas yang tidak menentu. Kalau diproses dengan
kilang kilang yang sekarang ini efisiensinya sudah rendah. Secara
otomatis biaya produksinya sangat besar dan kalau dipaksakan untuk
memproduksi BBM sesuai keperluan resikonya juga sangat tinggi. Jadi
keadaan yang sesuai pada jangka pendek memberi perhatian yang sangat
khusus untuk mempertahankan kapasitas produksi BBM dengan efisiensi yang
tinggi. Peningkatan penggunaan bahan bakar alternatif dari nabati
seperti program pemerintah. Sementara itu, persoalan trobosan pengadaan
teknologi pengguna bahan bahan bakar alternatif untuk menggeser
ketergantungan transportasi pada minyak fosil BBM dan bahan bakar
alternatif dari nabati tersebut kearah jangka menengah harus diadakan dengan perhitungan super cermat.
Tags :
artikel fuel cell
0 komentar
Posting Komentar